Matematika
Diskrit Mengenai
Penarikan
Kesimpulan, Aljabar Boolean dan Gerbang Logika
A.
Penarikan
Kesimpulan
Kesimpulan atau konsklusi ditarik
dari beberapa pernyataan yang di asumsikan benar terjadi. Asumsi-asumsi ini
disebut premis. Jika implikasi dari konjungsi premis-premis dengan konsklusi
merupakan tautologi maka dikatakan kesimpulan yang di ambil sah (valid).
Sebaliknya, jika premis-premis tidak
memberikan cukup informasi untuk mendukung kesimpulan yang diambil,
dikatakan penarikan kesimpulan tidak valid. Ada 3 prinsip dalam menarik
kesimpulan yang sah, yaitu prinsip modus Ponens, prinsip modus tollens dan
prinsip silogisme.
1.
Prinsip Modus Ponens
Premis 1 : p→q
Premis 2 : p
Konklusi : q
|
Prinsip
modus ponens mengatakan “jika p terjadi maka q terjadi” dan ternyata p terjadi.
Menurut asumsi, di simpulkan q terjadi”. Sahnya prinsip modus ponens dapat
dibuktikan dengan tabel kebenaran pernyataan majemuk “((p→q
^ p)→q”’
Contoh
:
a.
Premis
1 : Jika Gebi kehujanan, maka Gebi akan masuk angin.
Premis
2 : Gebi kehujanan.
Konklusi:
Gebi masuk angin.
Penarikan
kesimpulan ini menggunakan prinsip modus
ponens, beararti kesimpulan yang ditarik adalah sah.
b.
Premis
1: Jika Rico banyak membaca buku, maka wawasannya luas.
Premis
2 : Wawasan Rico luas.
Konklusi: Rico banyak membaca buku.
Penarika
kesimpulan seperti pada contoh b adalah salah atau palsu, karena premis tidak
mengharuskan wawasan luas hanya jika banyak membaca buku. Boleh jadi wawasan
Rico luas dikarenakan dia banyak berdiskusi dengan orang lain, banyak menonton
acara pengatahuan di TV, sring melancong, atau karena sering mengikuti seminar,
tetapi tidak banyak membaca buku.
2.
Prinsip Modus Tollens
Premis 1 : p→q
Premis 2 : p
Konklusi : q
|
Prinsip modus tolens mengatakan “bahwa
jika p terjadi maka q terjadi dan ternyata q tidak terjadi, maka simpulkan
bahwa p tidak terjadi”.
Prinsip modus tolens yang sah dapat
diperoleh dengan melihat tabel kebenaran bagi pernyataan majemuk ((p→q) ^ ~q)→p. Caral lain untuk memverifikasi
kesahan modus tolens adalah dengan memanfaatkan pemahaman kita tentang
ekuivalensi dan modus ponens sebagai berikut :
Premis1:p→q≡~q→~p
Premis2:~q
konklusi:~q
coba perhatikan contoh berikut :
Premis2:~q
konklusi:~q
coba perhatikan contoh berikut :
a. Premis
1 : jika saya berolahraga teratur, maka saya akan sehat.
Premis 2 : Saya tidak sehat.
Konklusi : Saya tidak berolahraga
teratur.
Penarikan kesimpulan ini menggunakan
modus tolens, berati kesimpulan yang ditarik adalah sah.
b. Premis
1 : jika Andi menang dalam bertanding, maka ia mendapat bonus.
Premis 2 : Andi tidak mendapat bonus.
Konklusi : Andi tidak menang dalam bertanding (benar)
Contoh Penarik kesimpulan ini
menggunakan prinsip modus tolens, berati penarikan kesimpulan ini adalah sah
(valid).
3.
Prinsip
Silogisme
Premis 1: p→q
(benar)
Premis 2:q→r(benar)
Konklusi :p→r
(benar)
|
Prinsip silogisme pada dasarnya
mengatakan “jika p terjadi maka q terjadi, dan jika q terjadi maka r terjadi,
sehingga disimpulkan jika p terjadi maka r juga terjadi”.
Prinsip silogisme diverifikasi dengan
melihat tabel kebenaran bagi pernyataan majemuk ((p→q) ^ (q→r))→(p→r).
Contoh :
1. Selidiki
sah atau tidak nya penarikan kesimpulan berikut.
Premis 1 : Jika x bilangan ganjil, maka
2x bilangan genap.
Premis 2 : Jika 2x bilangan genap, maka
2x +1 bilangan ganjil.
Konklusi : jika x bilangan ganjil, maka
2x +1 bilangan ganjil.
Solusi
Penarikan kesimpulan ini menggunakan
prinsip silogesme, berati penarikan kesimpulan ini sah.
2. Selidiki
sah atau tidaknya penarikan kesimpulan berikut dengan menggunakan tabel
kebenaran.
Premis 1 : p→q
Premis 2 : ~p
Konklusi : ~q
Solusi
Kita periksa cara penarikan kesimpulan
seperti di atas dengan menentukan nilai kebenaran dari ((p→q) ^ ~p)→ ~q.
P
|
q
|
~p
|
~q
|
p→q
|
(p→q)^~p
|
((p→q)^~p→~q
|
B
|
B
|
S
|
S
|
B
|
S
|
B
|
B
|
S
|
S
|
B
|
S
|
S
|
B
|
S
|
B
|
B
|
S
|
B
|
B
|
S
|
S
|
S
|
B
|
B
|
B
|
B
|
B
|
Pada tabel kebenaran terlihat bahwa nilai
kebenaran ((p→q) ^ ~p)→q
adalah B B S B, berati bukan merupakan tautologi. Jadi, penarikan kesimpulan
tersebut tidak sah.
4. Penambahan Disjungsi
Didasarkan pada fakta bahwa jika suatu kalimat dapat
digeneralisasikan dengan penghubung dengan “v”, maka kalimat tersebut akan
bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar.
p q
--------- atau ---------
p V q p
V q
~p :Saya
mengambil matakuliah matematika diskrit.
~q : Saya mengambil mata kuliah Agama.
~q : Saya mengambil mata kuliah Agama.
∴ Saya mengambil mata kuliah matematika
diskrit dan agama.
5.
Penyerdahanaa Disjungsi
Jika
beberapa kalimat dihubungkan denganpenghubung ”ʌ”, maka kalimat tersebut dapat diambil salah
satunya secara khusus.
p
ʌ q p ʌ q
---------
atau ---------
p q
Contoh:
~p : Dewi menyukai makanan sop ayam.
~q : Dewi menyukai makanan sate ayam
~q : Dewi menyukai makanan sate ayam
∴ Dewi menyukai
makanan sop ayam dan sate ayam.
6.
Silogisme Disjungtif
Metode penarikan kesimpulan dimana jika di berikan dua pilihan “p” dan “ q” sedangkan “q” tidak di pilih maka kesimpulan nya adalah “p”.
Metode penarikan kesimpulan dimana jika di berikan dua pilihan “p” dan “ q” sedangkan “q” tidak di pilih maka kesimpulan nya adalah “p”.
Contoh kalimat:
p v q
: Bulan depan saya pergi ke singapura atau
pergi ke korea
- q
: Bulan ini saya tidak pergi ke Bali.
kesimpulan(p): Bulan ini saya pergi ke singapura.
7.
Silogisme
Hipotesis
Silogisme
Hipotesis adalah jika diketahui "p → q" dan "q → r" maka kesimpulannya "p → r".Kaidah
ini didasarkan pada tautologi , yang dalam hal ini, p dan q
adalah hipotesis, sedangkan p adalah konklusi. Kaidah ini di
tulis dengan cara :
Contoh kalimat
:
P : nisa suka makan atau
q: nisa kenyang
r :nisa punya uang
kesimpulan nya (p→r)= jika nisa makan makan nisa punya uang
Dilema adalah penarikan kesimpulan jika diketahui
"p v q" dan "p → r" dan "q → r" maka kesimpulannya adalah "r".
Contoh dalam soal:
P:Agama itu menyenangkan
q:Dosen agama baik
r: Roy dapat nilai70
kesimpulannya “r”=Roy dapat nialai 90
B. Aljabar
Boolean
Misalkan terdapat :
1. Terdapat "dan", "atau", "not".
2. 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda.
3. Himpunan yang didefinisikan pada operator +, ×, dan ’.
Contoh NK dari :
1. a + b
a
|
b
|
a+b
|
1
|
1
|
1
|
1
|
0
|
1
|
0
|
1
|
1
|
0
|
0
|
0
|
2. (ab)'
A
|
B
|
Ab
|
(ab)’
|
1
|
1
|
1
|
0
|
1
|
0
|
0
|
1
|
0
|
1
|
0
|
1
|
0
|
0
|
0
|
1
|
C . Gerbang
Logika
Gerbang logika digambarkan sebagai mesin yang memuat
satu input atau lebih dan tepat satu output. Ada dua jenis gerbang logika pada
aljabar Booleanyaitu gerbang logika dasar yang terdiri dari AND, OR, dan NO.
Gerbang
AND
Gerbang logika menggunakan, gerbang AND akan bernilai output 1, jika
seluruh input bernilai 1 jika salah satu input bernilai 0, maka output yang
dihasilkan bernilai 0.
Gerbang OR
Gerbang OR menggunakan, akan memiliki output 1,
jika salah satu input bernilai 1. namun, jika seluruh input bernilai 0, maka
output akan bernilai .
Gerbang
NOT
Gerbang NOT menggunakan IC 7404,
memiliki input berkebalikan dengan output, misal input 1, maka output bernilai
0.
Daftar Pustaka
Sri Kurnianingsih, K. S. (2007). Matematika SMA DAN
MA untuk kelas X Semester 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Wahyuningrum, T.
(2006). Matematika Diskrit. Bandung.
~~TRIMAKASIH~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar